K13 Kurikulum 2013 …. di Lapangan (di Kelasku)

Diposting pada

e-dukasi.net – Memulai pelaksanaan kurikulum baru dengan sejuta baik sangka ternyata memang tak cukup. Setelah beberapa minggu pelaksanaan, kok jadi merasa makin berat saja. Dari masalah keterlambatan buku, format RPP plus penilaian yang sangat boros kertas, hingga keterbatasan sarana-dan prasarana agar KBM dapat berjalan sesuai tuntutan.

Membuat ku tak bisa menyambut lahirnya kurtilas dengan senyum bahagia lagi. Untuk guru yang mengajar di Sd yang minim fasilitas seperti aku, pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan saintifik seperti tuntutan memang banyak kendala.  Keterlambatan buku misalnya, karena masalah ini terpaksa sekolah mengeluarkan anggaran ekstra yang tidak sedikit, untuk seminggu pembelajaran saja kami sudah menghabiskan hampir 1 juta rupiah. Nilai yang tidak sedikit untuk ukuran SD kampung seperti kami. Memang masih tercover dana BOS, tapi kan seharusnya uang sebanyak itu bisa dimanfaatkan untuk hal lain yang lebih bermanfaat, membeli alat/ bahan praktek, atau alat peraga misalnya.


Itu tadi baru masalah buku, masalah yang lebih besar buatku justru dari segi pelaksanaan. Mungkin juga karena pengetahuanku yang kurang memadahi tentang bagaimana seharusnya pelaksanaan kurikulum baru ini, tapi yang aku rasakan adalah pada prakteknya waktu pembelajaran dalam satu hari habis hanya untuk tugas demi tugas yang tercantum dalam buku siswa. Kami kekurangan waktu untuk melakukan proyek, percobaan atau pengamatan langsung. Maklum saja murid-muridku tak sepintar anak SD favorit yang bisa menyelesaikan tugas dengan cepat. Disamping pengetahuanprasyarat  mereka yang kurang memadahi, mereka juga kurang lancar dalam berbahasa Indonesia, belum lagi keterasingan dari berbagai sumber informasi.


Ini salah satu tugas yang ada dalam buku siswa:

Bagaimana aku bisa menugaskan mereka mengerjakan seperti di atas, kalau sekolah kami tidak punya perpustakaan atau akses internet , mereka juga hampir tidak pernah menyaksikan siaran mendidik dari televisi, mana tau orang tua mereka tentang tontonan yang sehat atau tidak untuk perkembangan anak mereka….

Salah satu cara yang aku tempuh adalah membuat semacam mading yang berisi bacaan yang mendukung materi pelajaran, tapi hasilnya masih kurang efektif. Salah satu kendalanya adalah keterbatasan mereka untuk memahami bacaan berbahasa Indonesia.

Hingga saat ini masih putar otak, bagaimana jalan keluar untuk masalah ini… Anda punya saran?