Ketika Ibu Pulang Dari Pasar

Diposting pada

Disetiap desa atau daerah bisanya memiliki pasar sendiri. Tempat tinggal saya ada didaerah kampung atau pedesaan didaerah pegunungan. Pasar tradisional biasanya buka sekali seminggu, dan tidak ada pasar modern seperti minimarket atau sejenisnya. Pasar ini biasanya kami sebut pekan atau pajak, saya juga bingung kenapa bisa dikatakan pajak atau pekan, pekan mungkin karena seminggu sekali, tapi kalau pajak apa mungkin karena bayar karcis para penjual untuk bisa menempati fasilitas jualan, pastinya saya masih bingung. Dulu saya masih anak anak. Seumuran kami kalau udah pergi ke pekan itu udah keren namanya walaupun Cuma dikasih jajan seribu. Pastinya udah keren, kerennya yaitu ketika menginjakkan kaki di pasar dan melihat banyak orang melakukan jaul beli, dan kita bisa melihat banyak hal, itulah kerennya bagi kami anak desa dulu, sensasinya sangat luar biasa.

Banyak sekali hal hal yang menarik dulu, misalkan saja tukang obat yang pake pengeras suara yang biasa ada sulap sulapnya dan juga atraksi yang terbilang menegangkan bagi seumuran kami sekaligus menarik. Ada yang atraksi ular, ada yang atraksi sulap jadi kelinci, dan ada atraksi melewati kaleng lingkaran. Semua aitu kami saksikan dan sensasinya tak terkira bagi kami. Kami tidak mengharapkan dikasih uang untuk pergi ke pajak, tanpa uangpun kami kesana untuk melihat atraksi sulap yang setiap pekannya ada.

Sebelum saya sd dulu, saya jarang ke pekan, karena pekan dari rumah sangatlah jauh. Biasanya ibu (mama) meninggalkan kami dirumah. Katanya tunggu mamak aja ya, nanti saya bawakan oleh oleh. Biasanya dengan senang kami menunggu mamak dirumah berharap dibawakan oleh oleh. Kami biasanya menitipkan apa saja yang kami mau, biasanya sih permen atau kerupuk yang harganya tak sampa seribuan sih. Kami ditinggal biasa karena alasan tidak ingin ribet oleh anak anaknya, dan juga secara ekonomi, keluarga saya orang susah. Jadi dengan tinggalnya kami dirumah meringankan beban mamak pergi ke pasar.

Kesenangan tiada tara ketika kami melihat mama dari kejauhan datang. Biasanya kami anak anak mama langsung lari menjumpai sambl menagih oleh oleh. Biasanya mama mengatakan dirumah saja. Dan ketika dirumah kamipun dibagikan oleh oleh berupa permen dan kerupuk. Kamipun senang dan berlarian kehalam rumah, sambil membuka bungkusan kerupuk dan memakannya. Ada juga waktu waktu tertentu mama tidak membawa apa apa. Ketika kami tagih, mama cuma membawa barang belanjaan saja. Mama biasanya bilang kalau tukang jual permen sama kerupuk sudah meninggal sehingga mama tidak bisa membawakan kami oleh oleh. Kamipun selalu percaya dan yakin apa yang mama katakan. Itu dulu ketika saya kecil

Sekarang saya sudah besar, ketika saya mengingat itu, kadang saya mersasa sedih, ternyata ekonomi mama yang paspasan selalu dirahasiakkannya ke kami. Mama tidak ingin kami tau penderitaannya. Lagian ayah kami dulunya terlalu cepat meninggal dunia ketika kami juga masih anak anak. Pengalaman demi pengalaman yang bahagia dulu, ketika aku ingat aku sangat sedih. Saya dulu tidak sadar apa yang dirasakan mama ketika kami meminta oleh oleh. Kami tidak tau apa yang dibenak mama kami ketika kami lari menjumpainya menagih oleh oleh. Kami juga tidak tau apa yang mama pikirkan ketika kami tertawa bahagia melahap oleh oleh yang mama berikan kepada kami. Semoga mama dipanjangkan umurnya oleh Allah dan dimurahkan rezekinya, diberikan kesehatan hingga aku sukses.